Scroll untuk membaca artikel
Tasmalinda
Senin, 24 Maret 2025 | 11:48 WIB
Gubernur Herman Deru murka karena citra Palembang rusak karena rendang sepanci

SuaraSumsel.id - Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengungkapkan kemarahannya atas konten yang dibuat kreator Willie Salim terkait hilangnya 200 kilogram rendang saat acara masak besar di Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang.

Menurut Herman Deru, konten tersebut tidak hanya merugikan citra daerah, tetapi juga sengaja dibuat untuk meraup keuntungan pribadi.

"Mako kemarin ada orang ambil konten itu, ai marah nian aku, yang rendang itu ye, memang disengajoke supayo direbut uwong, sudah itu kito dikatoinyo," kata Herman Deru pada awak media Minggu (23/3/2025) malam.

Dugaan Konten Settingan Demi Popularitas

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah 23 Maret 2025 di Palembang, Banyuasin, dan Ogan Ilir

Herman Deru menilai bahwa video yang dibuat oleh Willie Salim lebih banyak mendulang sensasi ketimbang menyampaikan fakta.

Ia menegaskan bahwa para kreator konten seharusnya bertanggung jawab dalam menyajikan informasi kepada publik, bukan sekadar mencari keuntungan dari kontroversi.

"Saya tidak rela nama Palembang dirusak hanya karena konten daging sepanci. Terlalu terhormat orang Sumatera Selatan, khususnya Palembang, hanya karena daging sepanci," tegasnya.

Gubernur pun menjelaskan bahwa situasi yang terjadi di acara masak besar tersebut memang ada unsur rebutan dalam pengambilan rendang. Namun, hal itu sengaja dibuat agar makanan cepat habis, meski belum sepenuhnya matang.

"Aku tidak akan menyalahkan sedulur kita yang mengambil. Memang (sengaja) dipancing," tambahnya.

Baca Juga: Jadwal Buka Puasa Kota Palembang, Banyuasin, dan Ogan Ilir pada 22 Maret 2025

Gubernur Herman Deru buka rakor se Sumsel

Klarifikasi dan Permintaan Maaf Willie Salim

Setelah menuai polemik dan mendapatkan banyak respons negatif dari warganet, Willie Salim akhirnya mengunggah permohonan maaf melalui akun Instagram pribadinya @willie27_. Dalam video yang diunggah pada Sabtu (22/3/2025), Willie mengaku bersalah karena kurang persiapan dalam acara masak besar tersebut.

"Saya minta maaf untuk seluruh warga Palembang yang tersakiti. Gara-gara rendang viral, banyak narasi yang tidak enak terhadap warga Palembang," ucapnya.

Willie juga mengakui bahwa ini merupakan pertama kalinya ia memasak dalam jumlah besar untuk banyak orang, dan kekurangan persiapan menjadi penyebab utama masalah yang terjadi.

"Jujur, ini bukan salah warga Palembang, sepenuhnya salah saya karena saya kurang persiapan. Mohon maaf, saya pertama kali masak untuk orang sebanyak itu," ujarnya.

Polemik Kreator Konten dan Etika di Media Sosial

Insiden ini memunculkan perdebatan mengenai batasan dalam pembuatan konten di media sosial.

Banyak yang menilai bahwa kreator seperti Willie Salim seharusnya lebih berhati-hati dalam membuat konten, terutama jika berkaitan dengan nama baik suatu daerah.

Gubernur Herman Deru menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh kreator konten, terutama mereka yang memiliki pengaruh besar di media sosial.

Menurut Herman Deru, setiap konten yang diproduksi harus mengandung nilai tanggung jawab dan tidak boleh merugikan pihak lain, apalagi mencoreng nama baik suatu daerah.

Ia menyoroti bagaimana era digital saat ini memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat, sehingga setiap narasi yang diangkat harus didasarkan pada fakta yang akurat dan tidak dibuat-buat hanya demi sensasi belaka.

Bagi ia, nama baik Palembang bukanlah sesuatu yang bisa dikorbankan demi mengejar ketenaran atau sekadar mendulang engagement di media sosial.

Ia menegaskan bahwa masyarakat Sumatera Selatan dikenal dengan sikap terbuka dan keramahtamahannya dalam menyambut siapa pun yang datang, termasuk para kreator konten.

Namun, ia juga mengingatkan agar keterbukaan ini tidak disalahgunakan dengan menghadirkan konten yang justru merugikan citra daerah dan warganya.

"Kami di Sumatera Selatan terbuka untuk siapa saja, tetapi tolong jangan sampai merusak citra baik kami hanya demi konten yang belum tentu benar," pungkasnya.

Load More