SuaraSumsel.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK Sumbagsel mendorong agar UMKM di Sumatera Selatan (Sumsel) bisa naik kelas sehingga bisa go publik. Dengan pencapaian go publik, UMKM akan mampu mengembangkan usaha lebih profesional sekaligus memperoleh pembiayaan dari pasar saham.
Direktur Analisis Statistik Dan Informasi Pasar Modal OJK, Sujanto mengungkapkan kinerja pasar saham modal teruntuk Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) memperlihatkan kinerja membaik. Dibandingkan dengan beberapa provinsi di Sumbagsel, Sumsel memperlihatkan jumlah investor yang kian bertambah.
Di Sumsel sendiri sudah terdapat jumlah investor pasar modal baik SID, CBEST, SINVEST, EBAE dan SBN mencapai 261.894 pada tahun 2023. Jumlah ini meningkat dibandingkan pada dua tahun sebelumnya yang hanya 257.149 jumlah investor.
"Untuk UMKM sendiri yang menjadi penerbit SCF yakni 5 dengan jumlah investora SCF 1.940 dengan jumlah dana yang terhimpun SCF Rp6,71 miliar pada tahun 2021. Sedangkan pada tahun 2023,hampir sama, terdapat 5 penerbit SCF dengan 1.940 jumlah dana yang terhimpun sama," terangnya.
Dia menerangkan kebijakan OJK mempermudah UMKM mencari pendanaan melalui pasar modal, yakni melalui aplikasi platform digital penyelenggara, tidak harus berbadan hukum tetapi badan usaha yang juga dapat menawarkan SCF misalnya CV atau Firma.
"Efek yang ditawarkan juga tidak harus berbentuk saham, tetapi bisa membentuk obligasi dan sukuk," terang ia.
Adapun kebijakan OJK dalam mengembangkan UMKM di Indonesia, seperti halnya mendukung program Pemerintah dalam pengembangan melalui penyediaan skema penghimpunan dalam melalui reksa dana penyertaan terbatas yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan pembiayaan untuk memperoleh sumber dana yang disalurkan berupa kredit kepada UMKM.
"Ada yang namanya PNM Mekar, dan ULAMM," tambahnya.
OJK mencatat pada Maret 2023, telah terdapat 13 produk RDPT yang digunakan untuk pembiayaan UMKM dengan jumlah kredit yang disalurkan ke UMKM telah mencapai Rp4,58 triliun.
Baca Juga: Ratusan Perempuan Sumsel Jadi Pekerja Migran ke Malaysia
Di Sumsel sendiri jumlah investor pribadi (SID) pada tahun 2022 mencapai 257.100 investor. Jumlah ini naik dibandingkan tahun 2021, yang baru 175.100 investor.
Meski jumlah investor meningkat, namun tren transaksi saham sempat menurun. Pada tahun 2022, tren transaksi mencapai 7,17 triliun rupiah, dibandingkan pada tahun 2021 hanya 7,80 triliun rupiah.
Berita Terkait
-
Ratusan Perempuan Sumsel Jadi Pekerja Migran ke Malaysia
-
Miris, Mahasiswa Terlibat Aksi Begal Berkedok Tawuran Terorganisir di Palembang
-
Rangkaian Laptop Terbaru Dukung Produktivitas Masyarakat Palembang Lebih Pintar
-
2 Karyawan Luka Parah Tertimbun Lift Barang JM Pasaraya Bandung di Palembang Ambruk
-
Detik-Detik Lift Barang Pusat Pembelanjaan di Palembang Jatuh, Dua Orang Kritis
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Program MBG di Sumsel Sudah Jangkau 2 Juta Penerima, Lalu Mengapa 10 Dapur Masih Disuspensi?
-
HUT RI ke-81, PTBA Perkuat Komitmen Hadirkan Energi, Masyarakat Berdaya, Lingkungan Terjaga
-
Bukan di BKB, Festival Bidar 2026 Justru Ubah Kampung Kapitan Jadi Pusat Keramaian
-
Semangat Kemerdekaan, Bank Sumsel Babel Perkuat Komitmen Membangun Daerah yang Berdaulat dan Makmur
-
LRT Sumsel Cuma Rp1.000 saat HUT RI, Cek Jadwal Tambahan Perjalanannya