"Waktu itu ada penangkapan. Setelah itu langsung dilakukan perawatan dengan berkoordinasi dengan dokter hewan. Setelah itu kami berkoordinasi dengan BKSDA Papua,Papua Barat dan Maluku agar satwa - satwa ini bisa dikembalikan ke habitat aslinya karena bukan dari Sumsel," ujarnya saat dihubungi, Suara.com, Selasa (28/9/2021).
Sembari melakukan koordinasi, satwa - satwa tersebut dititipkan di Bird Park Jakabaring Palembang. Disana fasilitas penangkarannya cukup lengkap. Sampai sekarang masih dititipkan disana dengan tetap dipantau BKSDA.
"Kami melakukan translokasi dengan pihak Garuda, pihak karantina dan dinas perternakan. Sebelum diberangkatkan satwa endemik ini juga akan dilakukan PCR karena Papua, Papua Barat dan Maluku bebas flu burung," ungkapnya.
Direncanakan translokasi 5 Oktober 2021 mendatang. Dan nanti BKSDA Jakarta juga dilibatkan karena ada transit sehari disana. Kemudian 6 Oktober 2021 akan dilanjutkan dari Jakarta ke masing - masing.
"Kami berusaha bergerak cepat , agar satwa - satwa ini bisa tiba tepat waktu dan mendapat makan dan minum agar kondisinya tetap sehat," jelasnya.
Menurut Ujang, cukup rumit mengatur translokasi satwa - satwa tersebut. Karena sejak awal kondisi yang kurang sehat membuat beberapa satwa mati. Tidak bisa bertahan cukup lama dalam kurungan kerangkeng yang padat dalam perjalanan darat yang cukup panjang.
" Dari total 118 Ekor , sudah 31 yang sudah mati. Satwa imi harus segera dilepaskan ke alamnya," bebernya.
Sebelum dilepas, sambungnya perlu beberapa pengecekan dan persiapan. Diketahui harga satwa - satwa tersebut cukup mahal. Yang paling mahal adalah kakak tua raja atau kakak tua hitam dengan harga Rp40 juta per ekor. Burung Nuri Rp25 juta.
"Perlu Sinergi semua pihak yang lebih terpadu dan ketak untuk mengawasi tempat - tempat keluar masuk lintasan transportasi yang memungkinkan jadi modus penyelundupan. Minimal ada pengecekan barang dan lainnya," pungkasnya.
Baca Juga: Siapa Toni yang Disebut Beri Rp2,43 Miliar pada Alex Noerdin, Kertas Tertulis Sumsel Satu?
Kontributor: Welly Jasrial Tanjung
Tag
Berita Terkait
-
Satwa Kerang Kepah Asli Sungai Santan Diklaim Punah, Karena Tambang Batu Bara?
-
Kemunculan 3 Ekor Harimau Resahkan Warga Solok Selatan, BKSDA Sumbar Turun Tangan
-
Viral Harimau Kurus Makan Rumput di Medan Zoo, BKSDA Bentuk Tim
-
Ada Bocah 14 Tahun Hilang, Jalur Pendakian Gunung Guntur Ditutup Sementara
-
6 Burung Elang Brontok Dilepasliarkan ke Alam
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Ketika Video Kekerasan Pelajar Kembali Viral, Siapa yang Sebenarnya Gagal Melindungi Mereka?
-
HUT RI ke-81, Kilang Plaju Pertamina Teguhkan Semangat Kemerdekaan dan Ketahanan Energi
-
Putri Ordinary Kitchen, Kisah UMKM Belitung Timur yang Terus Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama