Scroll untuk membaca artikel
Tasmalinda
Minggu, 15 Agustus 2021 | 14:33 WIB
Bedah Buku Evolusi Patah Hati [Tasmalinda/Suara.com]

Dikatakan Ayi, patah hati sebenarnya membuat semua yang merasakan akan jauh lebih ikhlas, lebih dalam memahami hidup, dan lebih mudah mememukan kebahagian diri.

Pembahasan patah hati ini pun diramaikan dengan sekelumit pengalaman dari mereka yang hadir untuk berbagi, saling menguatkan dan menganggap patah hati sebuah realita hidup.

Dalam pendapatnya, pematik diskusi Ade Indriani Zuchri mengungkapkan patah ini, hanya meletakkan kesedihan yang kemudian bisa dikelola menjadi kemerdekaan bagi diri sendiri.

Dalam teorinya, pemikiran seseorang memang mistri, meski bisa ditebak atau dipahami oleh orang lain. Bisa jadi apa yang dipikirkan sama dengan orang lain, atau pikiran orang lain akan sama dengan yang kita pikirkan.

Baca Juga: Sumsel Disiapkan Jadi Produsen Tanaman Porang

Termasuk bagaimana seseorang yang mengalami patah hati, bagi yang sudah sama-sama merasakan maka akan menyatakan hal yang sama, dan kependihan yang sama.

Menurut Ludwig Wittgeinsten, seorang filsuf bahasa abad 20 dari Wina dalam bukunya Philosphical Investigation bahwa hipotesa dua orang yang sama tentang hal yang sama akan menjadi tidak sama atau berbeda atau juga disebut Inverted Qualia.

"Jadi pada saat penulis Evolusi Patah Hati Ada dalam Qualia kepedihan, maka orang yang mengalami keadaan yang sama, akan menjadi dua orang dalam hipotesa yang sama tentang Qualia kepedihan dan patah hati.. Namun apakah Qualia tentang patah hati bermakna mapan/ permanen? Belum tentu, karena Qualia terhadap bahasa sangat dipengaruhi pada keadaan seseorang saat itu," ungkapnya..

Load More