SuaraSumsel.id - Kasus kekerasan dalam pacaran masih cukup tinggi dialami perempuan di Provinsi Sumatera Selatan.
Data ini diungkapkan aktivis pusat pembelaan hak-hak perempuan 'Women's Crisis Center (WCC)' Palembang.
"Berdasarkan data pendampingan tindak kekerasan terhadap perempuan dalam setahun terakhir ada 111 kasus dari jumlah itu 46 di antaranya kasus tindak kekerasan dalam pacaran," kata Direktur Eksekutif WCC Palembang, Yeni Roslaini Izi seperti dilansir ANTARA, Kamis (11/3/2021).
Ada tiga kategori kekerasan dalam pacaran yakni kekerasan seksual berupa sikap tidak bertanggung jawab laki-laki setelah menghamili seorang wanita, kekerasan fisik (pemukulan) dan hutang (laki-laki yang gemar berhutang dengan pasangannya tapi akhirnya ditinggalkan).
Perempuan korban kekerasan dalam pacaran sebenarnya tidak hanya mengalami masalah tiga kategori itu namun juga masih banyak namun mereka malu untuk melaporkan.
Kasus kekerasan dalam pacaran seperti fenomena gunung es, korban-korban yang tidak melapor jauh lebih banyak dibanding angka-angka resmi yang terungkap tiap tahunnya.
Kekerasan dalam pacaran diklasifikasi khusus karena kondisi spesifiknya dibedakan dari kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perkosaan, dan pelecehan seksual.
DIbanding korban-korban KDRT yang sudah berani melapor ke WCC atau lembaga terkait, korban kekerasan dalam pacaran masih cenderung enggan mengungkapkan kasusnya.
Hal ini karena korban masih menganggapnya sebagai aib, sehingga merasa tidak perlu dilaporkan, terutama para wanita yang ditinggalkan pacarnya dalam keadaan hamil (si laki-laki tidak bertanggung jawab).
Baca Juga: Ikut KLB Deli Serdang, 7 Pengurus Partai Demokrat Sumsel Ini Dipecat
"Kekerasan tidak mesti bentuknya fisik, ancaman dan janji termasuk kekerasan, misalnya laki-laki yang berjanji akan menikahi si pacar setelah berhubungan badan tapi ternyata ujungnya si laki-laki kabur, itu juga termasuk kekerasan, korban kasus ini bahkan sudah menyentuh usia pelajar SMP," ujar Yeni.
Berita Terkait
-
UAS Disebut Paling Cocok Dampingi Anies Baswedan di Pilpres 2024
-
Empat Objek Sejarah di Palembang Ini Direkomendasikan Jadi Cagar Budaya
-
Tangkal B117, Warga di Sumatera Selatan Diimbau Pakai Masker Dua Lapis
-
191.351 Pelanggan PLN di Palembang Terima Perpanjangan Stimulus
-
Misterius! Ibu dan Anak di Palembang Dilaporkan Hilang setelah Naik Travel
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla
-
Sopir Logistik Diminta Setop Masuk Empat Lawang, Ada Cerita Perampokan Pukul 05.00 WIB
-
PBB IGM Palembang Menunggak Rp2,33 Miliar, Bapenda dan Yayasan Beda Pandangan soal Status Nirlaba
-
438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?
-
Edison Didakwa Terima Rp4,67 Miliar dalam Kasus Smart Board, Jaksa Ungkap Dugaan Transaksi Bertahap