- Kota Palembang diselimuti kabut asap pekat dengan kualitas udara berbahaya mencapai AQI 404 pada Kamis (22/10/2026).
- Konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Palembang sempat menembus angka 1.036,4 mikrogram per meter kubik akibat kebakaran hutan.
- BPBD Sumsel mencatat sebanyak 1.277 titik panas tersebar di wilayah Sumatera Selatan hingga Rabu (21/10/2026).
SuaraSumsel.id - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis (22/10/2026) malam. Kualitas udara di sejumlah kawasan memburuk, bahkan empat titik pemantauan masuk kategori berbahaya dengan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) tertinggi mencapai 404.
Berdasarkan pemantauan aplikasi IQAir sekitar pukul 19.00 WIB, empat wilayah yang masuk kategori berbahaya adalah Sukarami dengan AQI 324, Demang Lebar Daun mencapai 372, GP PLM sebesar 404, serta kawasan Universitas Sriwijaya (Unsri) Bukit Kecil dengan AQI 392. Sementara itu, kawasan Musi 2 tercatat memiliki AQI 292 atau berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Kondisi tersebut terjadi ketika kabut asap kembali terasa pekat di sejumlah kawasan permukiman dan jalan raya. Warga mengeluhkan bau asap, mata perih, hingga dada terasa sesak saat beraktivitas di luar rumah.
Berdasarkan data IQAir sekitar pukul 19.00 WIB, Kamis (22/10/2026), empat titik pemantauan di Palembang yang masuk kategori berbahaya meliputi GP PLM dengan AQI 404, Universitas Sriwijaya Bukit Kecil sebesar 392, Demang Lebar Daun mencapai 372, serta Sukarami dengan AQI 324.
Baca Juga:Karhutla Sumsel: 20 Korporasi Masuk Penyidikan, Identitas 4 Perusahaan Baru Belum Dibuka
Adapun kawasan Musi 2 mencatat AQI 292, yang masuk kategori sangat tidak sehat. Angka tersebut merupakan hasil pemantauan pada titik dan waktu tertentu. Kondisi kualitas udara dapat berbeda antarlokasi dan berubah mengikuti cuaca, arah angin, serta sumber emisi.
Warga Mengeluhkan Mata Perih dan Sesak Napas
Memburuknya kualitas udara turut dirasakan warga Palembang. Salah seorang warga kawasan Plaju, Siti Aminah (38), mengaku mulai merasakan gangguan ketika keluar rumah. “Keluar rumah sedikit saja dada langsung terasa sesak dan mata perih,” keluhnya.
Ia mengatakan bau asap bahkan terasa hingga ke dalam permukiman. Kondisi tersebut membuatnya semakin waspada dan memperketat penggunaan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.
Keluhan serupa disampaikan Rian (29), pengemudi ojek daring di Palembang. Menurutnya, kabut asap mengganggu aktivitas mencari nafkah, terutama ketika jarak pandang berkurang dan asap membuatnya batuk saat berkendara.
Baca Juga:Ngaku Pegawai Kemenkumham, Pria di Palembang Tipu Korban Rp250 Juta demi Lulus CPNS
“Pagi, sore, malam, sampai dini hari kabutnya tebal sekali. Pandangan terbatas dan bikin batuk-batuk di jalan,” katanya.
Keluhan warga tersebut menggambarkan gangguan yang mereka rasakan di tengah memburuknya kondisi udara. Namun, keluhan individu tidak dapat digunakan untuk memastikan tingkat paparan polusi di seluruh wilayah kota.
PM2.5 Palembang Sempat Menembus 1.036,4 µg/m³
Memburuknya kualitas udara Palembang juga tercermin dari pengukuran partikulat halus PM2.5 pada Kamis pagi.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan konsentrasi PM2.5 mencapai 1.036,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 04.00 WIB.
Berdasarkan data yang diberitakan detikSumbagsel, konsentrasi PM2.5 sempat tercatat 864,3 µg/m³ pada tengah malam. Angkanya kemudian berfluktuasi sebelum mencapai puncak pada pukul 04.00 WIB.