Tasmalinda
Kamis, 05 November 2026 | 19:40 WIB
Terowongan Sawah Luwung menjadi salah satu jejak sejarah pertambangan batu bara Ombilin
Baca 10 detik
  • PT Bukit Asam mengelola kawasan Ombilin di Sawahlunto melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pelestarian sejarah.
  • Perusahaan membina warga mengembangkan usaha produktif seperti budidaya lebah, peternakan, pertanian kopi, dan kerajinan songket.
  • PT Bukit Asam membangun PLTS berkapasitas 18,7 kilowatt peak pada 2019 untuk mendukung irigasi persawahan warga.

SuaraSumsel.id - Warisan pertambangan Ombilin di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, tidak hanya menyimpan jejak sejarah industri batu bara Indonesia. Kawasan ini juga memiliki potensi ekonomi yang terus dikembangkan melalui pemberdayaan masyarakat, mulai dari budidaya lebah madu, peternakan, pertanian kopi, hingga kerajinan songket.

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengembangkan potensi tersebut melalui pengelolaan Ombilin Mining Site yang mencakup optimalisasi aset, pelestarian kawasan bersejarah, serta program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

General Manager Ombilin Mining Site PTBA, Yulfaizon, mengatakan pengelolaan Ombilin tidak hanya berorientasi pada optimalisasi aset perusahaan, tetapi juga memperhatikan nilai sejarah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Ombilin merupakan aset strategis perusahaan yang memiliki nilai historis penting bagi Indonesia. Karena itu, pengelolaannya perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek bisnis, pelestarian warisan dunia, dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” ujar Yulfaizon dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2026).

Menurutnya, potensi kawasan Ombilin perlu dikembangkan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan nilai sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.

Salah satu upaya yang dilakukan PTBA adalah mendorong masyarakat mengembangkan usaha produktif berdasarkan potensi lokal. Program pembinaan tersebut menyasar sejumlah sektor, mulai dari peternakan dan pertanian hingga industri kreatif.

Budidaya Lebah Madu Libatkan Kelompok Berkebutuhan Khusus

Salah satu program pemberdayaan PTBA dilakukan melalui pembinaan Kelompok Tani Lebah Madu Galo-Galo Cupiang di Desa Santur, Kecamatan Barangin, Sawahlunto.

Kelompok ini mengembangkan budidaya lebah tanpa sengat atau lebah galo-galo. Hasil budidayanya meliputi madu, propolis, dan bee pollen yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk usaha masyarakat.

Baca Juga: PTBA Raih Penghargaan Kementerian ESDM atas Kepatuhan Pembayaran PNBP

Program tersebut juga memiliki pendekatan pemberdayaan yang inklusif. Kelompok binaan melibatkan kelompok anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam kegiatan budidaya lebah dan kewirausahaan.

Yulfaizon menjelaskan, keterlibatan kelompok ABK diharapkan dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif.

Dengan demikian, program budidaya lebah tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam kegiatan usaha.

Lahan Bekas Tambang Dimanfaatkan untuk Peternakan

Pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menyentuh sektor peternakan. PTBA membina Kelompok Tani Mutiara di Desa Santur yang mengembangkan usaha sapi dan kambing.

Kelompok tersebut menjadi salah satu pelopor pemanfaatan lahan bekas tambang untuk kegiatan produktif. Pemanfaatan lahan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang pengembangan usaha peternakan masyarakat.

Selain peternakan, PTBA turut mendukung pengembangan usaha pertanian kopi yang dikelola Abi. Pembinaan tersebut diarahkan untuk memperkuat usaha sekaligus mendorong munculnya penggerak ekonomi lokal di Sawahlunto.

Sektor industri kreatif juga mendapat perhatian melalui pembinaan usaha tenun Songket Silungkang yang dikembangkan Anita Dona Asri.

Pengembangan usaha tenun tidak hanya berkaitan dengan peluang ekonomi, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal. Songket Silungkang menjadi salah satu produk kerajinan yang memiliki nilai budaya dan potensi ekonomi bagi masyarakat setempat.

PLTS 18,7 kWp Dukung Irigasi Persawahan

Selain pengembangan usaha masyarakat, PTBA menjalankan program yang berkaitan dengan pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung aktivitas pertanian.

Pada 2019, perusahaan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Talawi Mudik, Sawahlunto, dengan kapasitas 18,7 kilowatt peak (kWp).

Fasilitas tersebut dimanfaatkan untuk menggerakkan pompa irigasi yang menyalurkan air ke persawahan masyarakat. Program ini ditargetkan memberikan manfaat bagi 115 petani beserta 345 anggota keluarganya.

Pemanfaatan PLTS untuk kebutuhan irigasi menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap aktivitas pertanian masyarakat melalui penggunaan energi terbarukan.

Yulfaizon mengatakan, pemberdayaan masyarakat merupakan bagian penting dari pengelolaan Ombilin agar potensi daerah dapat berkembang dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Melalui program TJSL, kami berupaya mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan potensi lokal menjadi kegiatan ekonomi produktif. Mulai dari budidaya lebah madu, peternakan, pertanian kopi, hingga industri tenun, seluruhnya memiliki peluang untuk tumbuh dan memberikan nilai tambah,” tuturnya.

Menjaga Sejarah Tambang, Mengembangkan Ekonomi Masyarakat

Bagi PTBA, pengelolaan Ombilin mencakup dua kepentingan yang saling berkaitan, yakni menjaga nilai sejarah kawasan pertambangan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Kawasan Ombilin memiliki arti penting dalam sejarah pertambangan batu bara Indonesia dan telah menjadi bagian dari warisan dunia. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan perhatian terhadap aspek pelestarian, pemanfaatan aset, dan keberlanjutan lingkungan.

Di sisi lain, pengembangan usaha masyarakat menjadi salah satu cara agar keberadaan kawasan tersebut turut memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

Melalui pembinaan kelompok tani, pengembangan produk lokal, pemanfaatan lahan bekas tambang, hingga pembangunan fasilitas energi surya, PTBA berupaya mendorong masyarakat Sawahlunto mengembangkan potensi yang dimiliki.

Yulfaizon menegaskan, perusahaan ingin memastikan Ombilin tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah pertambangan nasional dan dunia, tetapi juga kawasan yang terus berkembang dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Dengan pendekatan tersebut, warisan pertambangan Ombilin diharapkan tetap terjaga, sementara masyarakat di sekitarnya memiliki kesempatan untuk tumbuh melalui kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Load More