- TNI AU bersama BNPB dan instansi terkait melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di Sumatera Selatan pada Senin, 26 Oktober 2026.
- Operasi tersebut mengerahkan lima pesawat untuk menyebar bahan semai berupa garam natrium klorida dan dry ice di udara.
- Hasil operasi berhasil memicu turunnya hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di tujuh wilayah untuk menangani karhutla.
TNI AU menjalankan operasi tersebut bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), BNPB, serta pemerintah daerah.
BMKG berperan memberikan analisis dan informasi meteorologi yang menjadi dasar pertimbangan pelaksanaan operasi. Data kondisi atmosfer digunakan untuk menilai peluang pembentukan hujan dan menentukan langkah berikutnya.
Feri Yunaldi menyatakan perkembangan cuaca dan kondisi atmosfer terus dipantau sebagai bahan pertimbangan untuk pelaksanaan operasi lanjutan.
TNI AU juga memastikan kesiapan pesawat angkut untuk mendukung operasi modifikasi cuaca di wilayah yang mengalami karhutla.
Upaya ini menjadi bagian dari penanganan terpadu yang tidak hanya mengandalkan hujan buatan, tetapi juga membutuhkan pemadaman darat, operasi udara, pemantauan titik api, serta koordinasi lintas instansi.
Hujan Buatan Bukan Satu-satunya Upaya Memadamkan Karhutla
Hujan yang turun setelah pelaksanaan OMC menjadi perkembangan penting bagi penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Namun, efektivitas penanganan tetap bergantung pada kondisi lahan, luas kebakaran, cuaca, dan kemampuan petugas menjangkau titik api.
Kawasan gambut memiliki tantangan tersendiri karena kebakaran dapat terjadi di bawah permukaan tanah dan sulit dideteksi hanya melalui pengamatan visual. Karena itu, peningkatan kelembapan akibat hujan perlu diikuti pemantauan dan penanganan di lapangan.
Operasi modifikasi cuaca di Sumatera Selatan diharapkan membantu mempercepat penanganan karhutla dan menjaga kelembapan lahan gambut. Sementara itu, perkembangan titik api dan kondisi kualitas udara tetap menjadi indikator penting untuk menilai dampak penanganan terhadap masyarakat.
Baca Juga: Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar
Pemerintah dan instansi terkait masih perlu memastikan apakah hujan yang dihasilkan dapat membantu menekan kebakaran secara berkelanjutan di wilayah-wilayah terdampak.
Tag
Berita Terkait
-
Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar
-
Hujan Guyur Palembang Usai 4 Bulan Kabut Asap, BMKG Ingatkan Warga Tak Minum Air Hujan
-
Prabowo Salurkan Rp200 Miliar untuk Karhutla Sumsel, Ini Rincian Dana untuk 15 Daerah
-
Korupsi Lampu Jalan Palembang Rp3,07 Miliar, 2 Tersangka Ditahan usai Pekerjaan Diduga Fiktif
-
Palembang Diguyur Hujan Usai Kemarau Panjang, BMKG Ungkap Peran OMC dan Dinamika Atmosfer
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Palembang hingga OKI Diguyur Hujan Buatan, TNI AU Kerahkan Hercules dan Casa untuk Atasi Karhutla
-
Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar
-
51.200 Liter Minyak Disita di Muratara, Bareskrim Ungkap Dugaan Pasokan Solar Ilegal ke Kontraktor
-
Hujan Guyur Palembang Usai 4 Bulan Kabut Asap, BMKG Ingatkan Warga Tak Minum Air Hujan
-
Prabowo Salurkan Rp200 Miliar untuk Karhutla Sumsel, Ini Rincian Dana untuk 15 Daerah