Tasmalinda
Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:55 WIB
Sejumlah kendaraan melintas di simpang susun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Palembang-Lampung yang tertutup kabut asap di Desa Ibul Besar III, Pemulutan, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Selasa (13/10/2026). Dry ice diuji untuk atasi kabut asap, mengapa Sumsel masih diselimuti asap pekat berbahaya? [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/tom]
Baca 10 detik
  • Pemerintah menguji penebaran 1,5 ton dry ice di Palembang pada Oktober 2026 untuk mengatasi kabut asap karhutla.
  • Pejabat meninjau persiapan di Lanud Sri Mulyono Herlambang demi menargetkan jarak pandang membaik dari 1.000 menjadi 5.000 meter.
  • Efektivitas metode ini masih dipertanyakan karena belum didukung data evaluasi transparan serta pemadaman sumber api utama.

Selama api masih menyala dan membakar vegetasi atau lahan gambut, asap baru dapat terus dihasilkan. Pergerakan angin juga memungkinkan asap dari wilayah lain masuk ke kawasan yang sebelumnya mulai membaik.

Kondisi ini membuat upaya mengurangi konsentrasi asap di udara perlu berjalan beriringan dengan pemadaman sumber api dan pencegahan kebakaran berulang.

Dalam konteks tersebut, teknologi dry ice perlu ditempatkan sebagai salah satu upaya pendukung, bukan pengganti penanganan kebakaran di lapangan.

Pemerintah sendiri menyatakan bahwa operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan tetap dilanjutkan bersama upaya pemadaman dan penanganan karhutla.

Aktivitas kebakaran: apakah sumber asap di wilayah terdampak juga berhasil dikendalikan?

Pengukuran tersebut penting agar evaluasi tidak hanya bertumpu pada kesan visual. Kabut yang terlihat menipis belum tentu berarti konsentrasi partikel halus berbahaya ikut turun pada tingkat yang sama.

Perbandingan data dari sejumlah titik pemantauan juga diperlukan untuk mengetahui apakah dampak operasi hanya bersifat lokal atau menjangkau wilayah yang lebih luas.

Pemerintah juga perlu menjelaskan hasil uji coba secara terbuka, termasuk jika dampaknya terbatas atau belum sesuai harapan. Transparansi hasil evaluasi dapat membantu publik memahami sejauh mana teknologi tersebut bermanfaat dan apakah penerapannya perlu dilanjutkan.

Bagi masyarakat yang setiap hari menghirup udara terdampak asap, ukuran keberhasilan bukan sekadar teknologi baru berhasil diterbangkan. Yang lebih penting adalah apakah kualitas udara benar-benar membaik, dampaknya bertahan, dan sumber asap berhasil dikendalikan.

Baca Juga: Kabut Asap Palembang Makin Parah, Jarak Pandang 50 Meter Picu Pembatalan Penerbangan

Uji coba dry ice kini perlu dibuktikan dengan data. Tanpa pengukuran yang transparan dan pengendalian kebakaran di sumbernya, harapan untuk mengurai kabut asap belum cukup menjawab persoalan yang dihadapi warga Sumatera Selatan.

Load More