- Kabut asap pekat menyelimuti Kota Palembang pada Kamis, 15 Oktober 2026, menyebabkan jarak pandang menurun hingga 50 meter.
- Penurunan jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II mengakibatkan pembatalan dua penerbangan rute Singapura.
- Konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Palembang mencapai kategori berbahaya bagi kesehatan berdasarkan data pemantauan.
Paparan polusi partikulat dalam konsentrasi tinggi dapat memicu iritasi, batuk, dan sesak napas, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung.
Angka pemantauan tersebut menunjukkan seriusnya persoalan kualitas udara yang dihadapi warga Palembang. Namun, untuk mengetahui kondisi aktual pada malam hari, masyarakat tetap perlu memeriksa pembaruan dari stasiun pemantauan karena konsentrasi polutan dapat berubah mengikuti pergerakan asap dan kondisi atmosfer.
Kabut asap kembali menjadi persoalan serius di Palembang
Kabut asap yang terjadi pada Kamis ini menambah rangkaian persoalan kualitas udara dan gangguan penerbangan yang dilaporkan sepanjang Oktober.
Sehari sebelumnya, Rabu (14/10/2026), jarak pandang di Bandara SMB II tercatat 500 meter pada pukul 07.30 WIB. Dalam laporan operasional saat itu, enam penerbangan keberangkatan masuk dalam daftar pemantauan.
Pada Kamis pagi, jarak pandang kembali turun hingga 50 meter. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa kondisi operasional bandara dapat berubah dari hari ke hari dan perlu terus dipantau.
Kabut asap yang membatasi jarak pandang juga meningkatkan risiko bagi pengguna jalan. Pengendara perlu mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan menggunakan lampu kendaraan sesuai kondisi. Jika jarak pandang terlalu terbatas untuk berkendara dengan aman, perjalanan sebaiknya ditunda sampai kondisi memungkinkan.
Bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung, perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Penanganan karhutla perlu diikuti pemantauan kualitas udara
Kabut asap yang berkaitan dengan karhutla memerlukan penanganan dari hulu hingga dampaknya terhadap masyarakat.
Baca Juga: Sumsel Jadi Proyek Percontohan Teknologi Dry Ice, Benarkah Bisa Mengatasi Kabut Asap?
Pemadaman kebakaran aktif, pencegahan titik api baru, pemantauan meteorologi, serta perlindungan kesehatan warga merupakan bagian penting dari upaya penanggulangan.
Pemerintah Sumatera Selatan sebelumnya juga menyiapkan operasi teknologi dry ice sebagai bagian dari upaya menangani persoalan kabut asap. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyatakan Palembang menjadi prioritas dalam rencana penerapan teknologi tersebut.
Namun, efektivitas operasi itu perlu dinilai berdasarkan pelaksanaan dan hasil pengukuran yang dapat diverifikasi, termasuk perkembangan curah hujan dan kualitas udara. Rencana penerapan teknologi tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa kabut asap telah berhasil diatasi.
Untuk mengetahui apakah kondisi Palembang membaik, masyarakat perlu mengikuti pembaruan kualitas udara, informasi cuaca, dan perkembangan penanganan karhutla dari instansi terkait.
Sementara itu, calon penumpang Bandara SMB II disarankan memeriksa informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara, mengingat kondisi jarak pandang dan status penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu.
Berita Terkait
-
Sumsel Jadi Proyek Percontohan Teknologi Dry Ice, Benarkah Bisa Mengatasi Kabut Asap?
-
Kabut Asap Belum Usai, 6 Penerbangan Bandara SMB II Palembang Kembali Terganggu
-
Demo Karhutla Berujung Pengeroyokan 2 Wartawan, Polisi Tangkap Terduga Provokator dan Sita 2 Sajam
-
POSPERA Sumsel Kecam Aksi Premanisme Ormas di Polda Sumsel, Desak Korporasi Pelaku Karhutla Ditindak
-
Kronologi Wartawan Tribun dan PalTV Dikeroyok Saat Liput Demo Karhutla di Polda Sumsel
Terpopuler
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- Wapres RI Mundur Saat Ekonomi Bergejolak, Hubungan Dengan Presiden Memburuk
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Wajah Kencang dan Awet Muda
- Rudal Houthi Ancam Piala Asia 2027 di Arab Saudi: AFC Bungkam, Jepang Resmi Mundur dari Turnamen
Pilihan
-
Maruli Simanjuntak Disebut Dilantik Prabowo Jadi Wakil Panglima TNI, Kamis Sore Ini
-
Kompak Berpakaian Dinas Lengkap Sambangi Istana, Perwira Tinggi TNI Siap Dilantik Prabowo
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
Terkini
-
Kabut Asap Palembang Makin Parah, Jarak Pandang 50 Meter Picu Pembatalan Penerbangan
-
Melalui Koperasi Desa dan BRILink Agen, BRI Perluas Akses Keuangan Masyarakat
-
Sumsel Jadi Proyek Percontohan Teknologi Dry Ice, Benarkah Bisa Mengatasi Kabut Asap?
-
Kabut Asap Belum Usai, 6 Penerbangan Bandara SMB II Palembang Kembali Terganggu
-
Demo Karhutla Berujung Pengeroyokan 2 Wartawan, Polisi Tangkap Terduga Provokator dan Sita 2 Sajam