- Pemerintah Sumatera Selatan menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Daerah dan Hari Kebudayaan Nasional pada 10 hingga 18 Oktober 2026.
- Orkestra Batanghari Sembilan melibatkan 25 seniman untuk tampil di Atrium Palembang Trade Center Mall pada 17 sampai 18 Oktober 2026.
- Rangkaian acara budaya tersebut turut menghadirkan pameran, berbagai lomba kreatif, pemutaran film, serta seminar bagi generasi muda.
“Atas dasar pemikiran tersebut, Orkestra Batanghari Sembilan hadir sebagai ruang penciptaan yang berusaha membaca kembali keragaman bunyi masyarakat Sumatera Selatan melalui perspektif hubungan antara ulu dan ilir, manusia dan alam, tubuh dan lingkungan, serta tradisi dan penciptaan baru,” jelas Silo.
Ia menambahkan, berbagai sumber bunyi tradisional tidak hanya ditampilkan kembali dalam bentuk aslinya, tetapi juga dieksplorasi dan ditafsirkan menjadi bahasa musikal baru tanpa meninggalkan jejak ekologis dan kultural yang melahirkannya.
Rangkaian Pekan Kebudayaan Daerah Sumsel
Sebelum mencapai acara puncak, Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Selatan telah menggelar sejumlah kegiatan edukasi dan apresiasi budaya.
Pada 10 Oktober 2026, kegiatan diawali dengan lokakarya dan seminar bertajuk Kalindang: Konstruksi Anti Gempa Lamban Tuha di Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) Palembang.
Rangkaian berikutnya berlangsung pada 15 Oktober 2026 melalui kuliah umum bertajuk Merawat Cagar Budaya, Menjaga Identitas Bangsa: Pendidikan, Pemberdayaan Ekonomi, dan Kemitraan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Aula Gedung I Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.
Sejumlah lomba juga digelar untuk membuka ruang partisipasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengenal dan mengembangkan ekspresi budaya daerah.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Selatan tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga sarana mempertemukan tradisi, pendidikan, dan kreativitas generasi muda.
Pertunjukan Orkestra Batanghari Sembilan diharapkan menjadi salah satu cara memperkenalkan kekayaan budaya Sumatera Selatan melalui pendekatan musikal yang lebih luas, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar sejarah dan lingkungan yang membentuknya.
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Tekan Ekonomi Palembang, 7 Hotel Laporkan Penurunan Tingkat Hunian
Tag
Berita Terkait
-
Kabut Asap Karhutla Tekan Ekonomi Palembang, 7 Hotel Laporkan Penurunan Tingkat Hunian
-
LRT Sumsel Tetap Beroperasi Normal di Tengah Kabut Asap, Penumpang Diimbau Pakai Masker
-
Minibus Terguling di Jakabaring Palembang, Sopir Akui Mengantuk hingga Tabrak Halte
-
PM2.5 Turun Usai Dry Ice Diuji, Kabut Asap Palembang Masih Berbahaya Hari Ini
-
Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?
Terpopuler
- Kronologi Gubernur Bali Wayan Koster Diamuk Pegawai SPBU
- Apa Manfaat dari Bedak Marcks? Kenali 5 Fungsi dan Keunggulan Variannya
- 7 Moisturizer Mengandung Formula Anti-aging untuk Wajah Kencang dan Awet Muda
- Urutan Skincare Pagi Wardah untuk Wajah Cerah Bebas Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Daftar HP RAM 12 GB Memori 512 GB untuk Multitasking, Cek Harga Terbarunya
Pilihan
-
Asap Karhutla Hari Ini Sudah Sampai Jakarta dan Banten!
-
Maruli Simanjuntak Disebut Dilantik Prabowo Jadi Wakil Panglima TNI, Kamis Sore Ini
-
Kompak Berpakaian Dinas Lengkap Sambangi Istana, Perwira Tinggi TNI Siap Dilantik Prabowo
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
Terkini
-
Kabut Asap Karhutla Tekan Ekonomi Palembang, 7 Hotel Laporkan Penurunan Tingkat Hunian
-
Sumsel United vs Persikad Depok: Laskar Juaro Incar Kemenangan Ketiga, Hibiki Mochizuki Berpeluang M
-
Satukan Doa dan Ikhtiar, Kilang Plaju Perkuat Keselamatan Pekerja Lewat Safety Leadership
-
Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Perkuat Ketangguhan Petani Rawa Lebak Sungai Rebo Lewat Mina Padi
-
BRI Bangun Jembatan Gantung di Desa Kemang Cianjur, Mobilitas Warga Kini Lebih Aman