- Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah menagih tindak lanjut ultimatum penanganan karhutla kepada Gubernur Sumsel Herman Deru pada Senin, 5 Oktober 2026.
- Mahasiswa menyoroti 27.861 titik panas dan 40.555 kasus ISPA yang berdampak buruk pada kesehatan serta aktivitas masyarakat Sumatera Selatan.
- Gubernur Herman Deru menyatakan penanganan melibatkan berbagai satgas serta alokasi bantuan presiden senilai Rp100 miliar untuk penanggulangan karhutla.
Mahasiswa juga menyoroti data Dinas Kesehatan Sumatera Selatan yang mencatat 40.555 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama September 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.671 kasus dilaporkan terjadi pada balita. Angka ini merupakan data yang disampaikan dalam pemberitaan aksi mahasiswa dan perlu dibaca sesuai periode pelaporannya.
Bagi mahasiswa, persoalan karhutla bukan semata-mata tentang luas lahan yang terbakar atau jumlah titik panas. Kabut asap juga menyangkut kesehatan masyarakat, keselamatan anak-anak, dan keberlangsungan kegiatan pendidikan.
Karena itu, mereka mendesak pemerintah tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api muncul, tetapi juga memperkuat pencegahan serta memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan dari dampak asap.
Bantuan Rp100 miliar dan kesiapan penanganan turut disorot
Dalam pertemuan dengan mahasiswa, Herman Deru juga menjelaskan alokasi bantuan Presiden sebesar Rp100 miliar untuk penanganan karhutla di Sumatera Selatan.
Menurut penjelasan gubernur yang diberitakan sejumlah media, Rp30 miliar dialokasikan untuk satuan tugas penanganan karhutla Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Sementara itu, Rp70 miliar lainnya dialokasikan untuk empat kabupaten, yakni Rp20 miliar untuk Ogan Komering Ilir (OKI), Rp20 miliar untuk Musi Banyuasin, Rp15 miliar untuk Banyuasin, dan Rp15 miliar untuk Ogan Ilir.
Herman Deru mengatakan pengadaan sejumlah peralatan penanganan karhutla masih melalui tahapan pelelangan. Ia menekankan penggunaan anggaran harus mengikuti petunjuk teknis yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
“Tidak boleh berimprovisasi dalam hal pembelanjaannya,” tegas Herman Deru dalam pemberitaan mengenai aksi mahasiswa.
Penjelasan tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap kritik mahasiswa. Namun, informasi mengenai alokasi anggaran berbeda dari laporan realisasi belanja. Untuk menilai tindak lanjut secara menyeluruh, publik perlu memperoleh informasi mengenai tahapan pengadaan, peralatan yang telah tersedia, serta penggunaannya dalam penanganan karhutla di lapangan.
Baca Juga: 2 Wartawan Dikeroyok Saat Liput Demo Karhutla di Polda Sumsel, Sempat Diintimidasi Hapus Video
Mahasiswa ancam kembali menggelar aksi
Lutfiah mengatakan mahasiswa dapat kembali menggelar aksi apabila tuntutan mereka tidak memperoleh respons dan tindak lanjut yang jelas.
Ia menegaskan bahwa ultimatum tersebut merupakan bentuk desakan agar pemerintah menunjukkan keseriusan menangani karhutla, bukan tuntutan agar seluruh persoalan selesai dalam waktu lima hari.
Mahasiswa berharap pemerintah membuka perkembangan penanganan secara transparan, termasuk langkah pencegahan, pemadaman, penegakan hukum, dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Berakhirnya tenggat 5x24 jam itu pun menempatkan tindak lanjut pemerintah sebagai perhatian berikutnya. Yang menjadi pertanyaan bukan hanya apakah petisi telah diterima dan ditandatangani, melainkan langkah konkret apa yang sudah dilakukan setelah tuntutan mahasiswa disampaikan.
Tag
Berita Terkait
-
2 Wartawan Dikeroyok Saat Liput Demo Karhutla di Polda Sumsel, Sempat Diintimidasi Hapus Video
-
Pantau Api, Website Berbasis AI Buatan Dosen MDP Palembang untuk Prediksi Kabut Asap Sumsel
-
Asap Tebal Hambat Pemadaman Karhutla, 3 Helikopter Malaysia Masih Menunggu Respons RI
-
Sumsel Dikepung 1.917 Titik Panas, Kualitas Udara Palembang Masuk Kategori Berbahaya
-
ISPA di Sumsel Tembus 52.483 Kasus, September Jadi yang Terburuk dan Kian Mengkhawatirkan
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Riset CELIOS: Purbaya Jadi Menteri Kinerja Terbaik, Bahlil Paling Buruk
Pilihan
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
Terkini
-
Ultimatum 5x24 Jam Berakhir, Mahasiswa UIN Desak Herman Deru Mundur sebagai Gubernur Sumsel
-
2 Wartawan Dikeroyok Saat Liput Demo Karhutla di Polda Sumsel, Sempat Diintimidasi Hapus Video
-
Pantau Api, Website Berbasis AI Buatan Dosen MDP Palembang untuk Prediksi Kabut Asap Sumsel
-
Mandatalam Earth Run 2026 1 BIB 1 Bibit: Hadir di 3 Kota, Satu Langkah untuk Bumi yang Lebih Hijau
-
TPA Sukawinatan Terbakar Lagi, Mengapa Sampah Masih Dikelola dengan Sistem Terbuka?