- Dr. Muhammad Rizky Pribadi dari Universitas MDP mengembangkan website Pantau Api untuk memprediksi karhutla di Sumatera Selatan.
- Platform berbasis kecerdasan buatan ini memanfaatkan data satelit NASA dan Himawari-9 untuk memperkirakan pergerakan asap.
- Inovasi tersebut bertujuan membantu masyarakat dan pemerintah dalam melakukan mitigasi serta pencegahan kabut asap.
SuaraSumsel.id - Bagaimana jika masyarakat bisa mengetahui potensi penyebaran kabut asap sebelum asap mencapai wilayah tempat tinggal mereka? Gagasan inilah yang mendorong dosen Universitas Multi Data Palembang (MDP), Dr. Muhammad Rizky Pribadi, mengembangkan Pantau Api, sebuah website berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu memantau risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta potensi penyebaran asap di Sumatera Selatan.
Platform ini memanfaatkan data satelit untuk memantau titik panas, arah angin, dan potensi pergerakan asap. Informasi tersebut diolah agar masyarakat dan pemerintah memiliki gambaran awal mengenai wilayah yang berisiko terdampak karhutla.
Rizky yang juga menjabat Kepala Program Studi Informatika Universitas MDP mengembangkan Pantau Api karena karhutla dan kabut asap terus menjadi persoalan di Sumatera Selatan. “Tujuannya, dapat memantau prediksi kabut asap dari data satelit yang diolah dengan AI. Data ini bisa memprediksi potensi asap per jam, terutama untuk Kota Palembang dan kabupaten lain di Sumsel,” kata Rizky.
Pantau Api bisa memprediksi pergerakan api dan asap
Pantau Api tidak hanya menampilkan lokasi titik panas. Platform ini dirancang untuk membantu memperkirakan arah pergerakan api dalam tiga, enam, hingga 12 jam ke depan, serta memetakan potensi risiko kebakaran pada hari berikutnya.
Sistem tersebut juga mengolah informasi mengenai arah angin untuk memperkirakan ke mana asap berpotensi bergerak. Sebagai contoh, ketika titik panas terdeteksi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), pergerakan angin dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah asap berpotensi bergerak menuju Palembang atau wilayah lain.
Namun, prediksi tersebut bukan kepastian. Pergerakan asap dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan atmosfer. Titik panas yang terdeteksi satelit juga masih perlu diverifikasi untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran.
Menggunakan data satelit NASA
Pantau Api memanfaatkan data dari sejumlah sumber, termasuk NASA FIRMS untuk mendeteksi titik panas dan satelit Himawari-9 untuk mendukung pemantauan kondisi secara berkala.
Baca Juga: Mandatalam Earth Run 2026 1 BIB 1 Bibit: Hadir di 3 Kota, Satu Langkah untuk Bumi yang Lebih Hijau
Platform ini juga menggunakan data atmosfer untuk membantu memperkirakan pergerakan asap dan informasi terkait partikel halus PM2.5.
Dengan menggabungkan berbagai sumber data tersebut, Pantau Api diharapkan membantu pengguna memahami perkembangan risiko karhutla secara lebih mudah.
Berdasarkan laporan Sumatera Ekspres, fitur prediksi pergerakan api dan peta risiko kebakaran hari berikutnya saat ini dikembangkan secara khusus untuk Sumatera Selatan. Sementara itu, di delapan provinsi rawan karhutla lainnya, platform digunakan untuk pemantauan titik panas dan sebaran asap.
Bisa diakses melalui website
Masyarakat dapat mengakses Pantau Api melalui pantauapi.my.id. Rizky berharap platform ini dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi potensi kabut asap, sekaligus menjadi sumber informasi tambahan bagi pemerintah dalam menentukan wilayah yang perlu mendapat perhatian.
Meski demikian, prediksi dari Pantau Api sebaiknya digunakan bersama informasi kualitas udara aktual dan peringatan resmi dari instansi terkait. Prediksi risiko tidak menggantikan pengukuran kualitas udara maupun pemeriksaan langsung di lapangan.
Tag
Berita Terkait
-
Mandatalam Earth Run 2026 1 BIB 1 Bibit: Hadir di 3 Kota, Satu Langkah untuk Bumi yang Lebih Hijau
-
TPA Sukawinatan Terbakar Lagi, Mengapa Sampah Masih Dikelola dengan Sistem Terbuka?
-
Sumsel Dikepung 1.917 Titik Panas, Kualitas Udara Palembang Masuk Kategori Berbahaya
-
ISPA di Sumsel Tembus 52.483 Kasus, September Jadi yang Terburuk dan Kian Mengkhawatirkan
-
Indeks Udara Palembang Masih Berbahaya, Ribuan Titik Panas Masih Terdeteksi di Sumsel
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Riset CELIOS: Purbaya Jadi Menteri Kinerja Terbaik, Bahlil Paling Buruk
Pilihan
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
Terkini
-
Kronologi Wartawan Tribun dan PalTV Dikeroyok Saat Liput Demo Karhutla di Polda Sumsel
-
Ultimatum 5x24 Jam Berakhir, Mahasiswa UIN Desak Herman Deru Mundur sebagai Gubernur Sumsel
-
2 Wartawan Dikeroyok Saat Liput Demo Karhutla di Polda Sumsel, Sempat Diintimidasi Hapus Video
-
Pantau Api, Website Berbasis AI Buatan Dosen MDP Palembang untuk Prediksi Kabut Asap Sumsel
-
Mandatalam Earth Run 2026 1 BIB 1 Bibit: Hadir di 3 Kota, Satu Langkah untuk Bumi yang Lebih Hijau