- Survei APJII 2025 menunjukkan penetrasi internet di Sumatera Selatan mencapai 76,98 persen dengan pola penggunaan yang kian produktif.
- Internet kini menjadi penopang utama pekerjaan, pendidikan, dan kreativitas bagi warga di berbagai daerah di Sumatera Selatan.
- Tantangan utama yang tersisa adalah pemerataan akses jaringan di wilayah pelosok yang belum terjangkau layanan internet stabil.
SuaraSumsel.id - Nomor telepon itu sudah hampir 14 tahun berada di tangan Zelvan Ramadhan. Ia membelinya pada 2012, ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Muara Enim. Banyak hal berubah sejak itu. Zelvan menyelesaikan sekolah, masuk perguruan tinggi, lalu kini bekerja sebagai freelancer. Namun nomor yang dibelinya ketika masih mengenakan seragam SMP tetap bertahan. Yang ikut berubah adalah cara Zelvan menggunakan internet.
Semasa kuliah, internet membantunya mencari video pembelajaran di YouTube, mengikuti pertemuan melalui Zoom, membaca buku daring, hingga berburu referensi dan jurnal ilmiah melalui Google Scholar. Sekarang, ketika sudah bekerja sebagai freelancer, internet menjadi bagian dari aktivitasnya mencari penghasilan. "Saya tidak pernah menyangka nomor yang saya beli saat SMP masih menemani saya mencari penghasilan sampai sekarang," kata Zelvan.
Perjalanan Zelvan mungkin terasa sederhana. Namun dalam rentang hampir 14 tahun itu, tersimpan perubahan besar tentang bagaimana internet masuk ke kehidupan seseorang. Dari sekadar alat komunikasi, lalu menjadi ruang belajar, hingga akhirnya ikut menopang pekerjaan.
Cerita berbeda datang dari Anyelir Ayu.
Sebagai content writer sekaligus content creator, kesehariannya nyaris tak bisa dilepaskan dari internet. TikTok dan Instagram bukan hanya tempat mencari hiburan. Kedua platform itu juga menjadi bagian dari pekerjaannya untuk melihat tren, mencari ide, dan mengikuti perkembangan konten digital.
Sudah sekitar tujuh tahun Anyelir menggunakan Tri. Pekerjaan dan aktivitasnya beberapa kali membawa dia meninggalkan kawasan perkotaan menuju sejumlah desa di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Ia pernah mengunjungi Desa Bangsal dan Lebung Itam. Dari pengalamannya, jaringan masih bisa digunakan dengan baik di kedua wilayah tersebut. "Tri itu kalau di desa juga lancar. Aku ke Desa Bangsal sama Lebung Itam area OKI pun masih kencang sinyalnya. Cuma kalau desa yang terpencil banget, baru mati sinyalnya," ungkap Anyelir.
Lalu ada Ardi, seorang pekerja lapangan dengan mobilitas tinggi. Pekerjaannya membuat ia harus mengunjungi sejumlah daerah di Sumatera Selatan, termasuk OKI, Muara Enim, hingga Lahat.
Di ponselnya, penggunaan data tercatat mencapai 105,71 GB. Angka itu memberi gambaran tentang besarnya kebutuhan internet seorang pekerja yang tak selalu berada di belakang meja. Bagi Ardi, kantor bisa berpindah mengikuti ke mana pekerjaan membawanya.
Baca Juga: 76,98 Persen Warga Sumsel Terkoneksi, Internet Kini Jadi Tulang Punggung Ekonomi
Dari pengalamannya bepergian ke sejumlah kabupaten, ia menilai jaringan IM3 yang digunakannya lebih jelas dibanding provider lain yang pernah ia pakai. "Kalau untuk pekerjaan lapangan, saya sering ke daerah-daerah. Pernah ke OKI, Muara Enim, juga Lahat. Dari pengalaman saya, sinyal IM3 lebih jelas dibanding provider lain yang pernah saya pakai," ujar Ardi.
Zelvan, Anyelir, dan Ardi memiliki pekerjaan dan kebutuhan yang berbeda. Namun pengalaman mereka memperlihatkan perubahan yang sama: internet semakin jauh meninggalkan fungsi lamanya sebagai sekadar alat bertukar pesan atau mencari hiburan. Internet telah masuk ke ruang belajar, pekerjaan, kreativitas, dan cara seseorang memperoleh penghasilan.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat tingkat penetrasi internet di Sumatera Selatan mencapai 76,98 persen berdasarkan survei tahun 2025. Angka tersebut masih berada di bawah penetrasi nasional yang mencapai 81,72 persen.
Ketua APJII Sumatera Selatan, Yunus Alfian, mengatakan perkembangan pengguna internet di Sumsel berlangsung cukup pesat. Namun perubahan yang terjadi bukan hanya mengenai berapa banyak orang yang telah terkoneksi.
Cara masyarakat menggunakan internet juga berubah. "Internet tidak saja digunakan untuk penunjang media komunikasi dan hiburan, tapi merupakan penopang utama pekerjaan dan dunia usaha. Baik skala kecil maupun besar. Dari kelas rumah tangga sampai industri," ujar Yunus kepada Suara.com.
Pandemi Covid-19 ikut mempercepat pergeseran tersebut. Ketika ruang kelas, kantor, toko, dan berbagai ruang pertemuan fisik mendadak terbatas, sebagian aktivitas berpindah ke dunia digital.
Tag
Berita Terkait
-
76,98 Persen Warga Sumsel Terkoneksi, Internet Kini Jadi Tulang Punggung Ekonomi
-
Transportasi Umum Palembang Dinilai Mundur, Surat Terbuka untuk Ratu Dewa: Kritik Kami Dibungkam
-
Dulu Bela Timnas dan Sriwijaya FC, Kini M Nasuha Ditargetkan Bawa Sumsel United ke Liga 1
-
KPK Panggil Ibu Rumah Tangga Jadi Saksi Kasus Suap Audit BPK Muara Enim
-
Dipilih dari 3 Kandidat, M Nasuha Resmi Latih Sumsel United dengan Satu Target Besar
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
-
Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur dari Menag: Isu Bursa Caketum PBNU Itu Spekulasi Liar
-
Menag Nasaruddin Umar Bantah Mundur: Itu Ada Orang yang Panik
-
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
-
Dari Pengumpul Data Hingga Perantara, Bagaimana DSI Bekerja
Terkini
-
Tim Alfa TNI Sudah Terjun ke Way Kambas, Apakah Juga Dikerahkan ke Karhutla Sumsel?
-
PLN ULP Ampera Jadwalkan Pemadaman Listrik 3 Jam, Cek Wilayah Terdampak
-
PTBA Borong Empat Penghargaan ISEA 2026, Tegaskan Transformasi Keselamatan Kerja
-
17 Tersangka Karhutla Sumsel Diproses, Lalu Bagaimana dengan 545 Hotspot di Konsesi?
-
ISPA Palembang Tembus 9.313 Kasus Saat Kabut Asap Karhutla, Ini Data Terbarunya