Tasmalinda
Kamis, 30 April 2026 | 21:19 WIB
Apa itu DME, yang merupakan hasil hiliriasi batu bara di Sumsel
Baca 10 detik
  • PT Bukit Asam dan Pertamina mengolah batu bara di Sumatera Selatan menjadi DME sebagai alternatif gas LPG rumah tangga.
  • Pemanfaatan DME bertujuan mengurangi ketergantungan impor LPG guna memperkuat ketahanan energi nasional serta mengoptimalkan sumber daya alam.
  • Pemerintah akan menerapkan transisi penggunaan DME secara bertahap melalui penyediaan infrastruktur serta edukasi masyarakat terkait penyesuaian peralatan kompor.

SuaraSumsel.id - Istilah DME mulai sering terdengar seiring dimulainya proyek hilirisasi batu bara di Sumatera Selatan. Di tengah pembahasan energi nasional, banyak orang bertanya-tanya: apa sebenarnya DME, dan benarkah ia bisa menggantikan LPG yang selama ini digunakan sehari-hari?

DME atau dimethyl ether adalah bahan bakar berbentuk gas yang secara karakteristik mirip dengan LPG. Karena kemiripan inilah, DME disebut-sebut dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak. Bedanya, jika LPG selama ini masih banyak bergantung pada impor, DME justru bisa diproduksi dari sumber daya dalam negeri, khususnya batu bara kalori rendah yang jumlahnya melimpah.

Pengembangan DME di Sumatera Selatan dianggap sebagai bagian dari langkah besar hilirisasi energi. Batu bara yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini diolah menjadi produk bernilai tambah. Dalam proyek ini, PT Bukit Asam Tbk berperan sebagai penyedia bahan baku, sementara distribusinya nanti akan melibatkan Pertamina Patra Niaga agar dapat menjangkau masyarakat luas.

Kehadiran DME dikaitkan dengan tidak lepas dari persoalan lama yang dihadapi Indonesia, yakni ketergantungan terhadap impor LPG. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada anggaran negara melalui subsidi energi, tetapi juga membuat pasokan rentan terganggu. Dalam situasi tertentu, masyarakat bahkan pernah merasakan kelangkaan.

Di sinilah DME diposisikan sebagai solusi. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, Indonesia diharapkan bisa mengurangi impor, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Bagi daerah seperti Sumatera Selatan, langkah ini juga membuka peluang ekonomi baru karena tidak lagi hanya menjual bahan mentah, tetapi juga menghasilkan produk energi.

Penggunaan DME tidak serta-merta langsung menggantikan LPG. Prosesnya akan dilakukan bertahap. Selain membutuhkan kesiapan infrastruktur, penggunaan DME juga memerlukan penyesuaian pada peralatan rumah tangga seperti kompor. Edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting agar transisi ini berjalan aman dan efektif.

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, bahkan melihat proyek ini sebagai jawaban atas persoalan energi yang pernah dirasakan masyarakat, terutama saat pasokan LPG terganggu. Menurutnya, pengembangan energi alternatif seperti DME bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

DME dinilai sebagai menjadi bagian dari upaya panjang Indonesia untuk lebih mandiri, mengurangi ketergantungan pada impor, dan memanfaatkan kekayaan alam secara lebih optimal.

Bagi masyarakat, yang terpenting bukan hanya memahami apa itu DME, tetapi bagaimana kehadirannya nanti bisa membuat energi lebih mudah diakses, lebih stabil, dan lebih terjangkau dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Hilirisasi Batu Bara dari Sumsel Dimulai, Bisakah Ini Akhiri Ketergantungan LPG Impor?

Load More