Tasmalinda
Minggu, 12 April 2026 | 19:57 WIB
belajar seni gitar batang hari sembilan Sumatera Selatan
Baca 10 detik
  • Pengrajin di Sumatera Selatan menggunakan kayu tembesu dan meranti berkualitas untuk menciptakan karakteristik suara gitar Batanghari Sembilan.
  • Struktur kayu yang padat dan matang secara alami menghasilkan resonansi mendalam serta gema panjang yang autentik.
  • Kualitas pemilihan bahan kayu yang selektif menjadikan setiap instrumen memiliki identitas suara unik dan bernilai tradisional.

SuaraSumsel.id - Di tengah dominasi musik digital yang serba instan, ada satu bunyi yang tetap terasa “hidup” dan menyentuh: petikan gitar dalam Batanghari Sembilan. Suaranya tidak hanya terdengar, tapi seperti punya “jiwa”—dalam, hangat, dan seolah bercerita.

Banyak orang mengira keindahan itu lahir dari teknik pemainnya. Memang benar, permainan punya peran penting. Namun, para pengrajin dan musisi tradisional sepakat pada satu hal: rahasia utama justru tersembunyi pada kayu yang digunakan.

Di Sumatera Selatan, pemilihan kayu untuk gitar Batanghari Sembilan bukan perkara asal jadi. Kayu seperti tembesu atau meranti kerap dipilih bukan karena mudah didapat, melainkan karena sudah terbukti mamp “menghidupkan” suara.

Seratnya yang padat membuat getaran senar tidak cepat hilang. Hasilnya, suara yang keluar terasa lebih dalam, dengan gema yang panjang dan lembut di telinga.

Ada filosofi yang dipercaya para pengrajin: kayu yang baik adalah kayu yang “matang”. Artinya, bukan sekadar tua, tetapi sudah melalui proses alami yang membuatnya stabil, tidak mudah melengkung, tidak menyimpan kadar air berlebih, dan mampu menghantarkan resonansi secara maksimal. Dari sinilah karakter suara khas itu terbentuk, sesuatu yang sulit ditiru oleh gitar pabrikan modern.

Menariknya, setiap potongan kayu bisa menghasilkan karakter suara yang berbeda. Ada yang lebih “basah” dan berat di nada rendah, ada juga yang lebih terang dan ringan. Inilah yang membuat setiap gitar Batanghari Sembilan terasa unik, seolah punya identitasnya sendiri.

Di tangan musisi, gitar ini bukan sekadar alat musik. Ia menjadi medium untuk menyampaikan cerita: tentang kehidupan, cinta, hingga kritik sosial yang dibalut dalam lirik sederhana namun menyentuh. Dan semua itu dimulai dari satu hal paling mendasar—kayu yang dipilih dengan penuh pertimbangan.

Belakangan, suara gitar Batanghari Sembilan kembali ramai dibicarakan, terutama di media sosial. Banyak anak muda mulai tertarik, bukan hanya karena nuansa tradisionalnya, tetapi karena karakter suaranya yang berbeda dari musik modern yang serba digital. Ada rasa “asli” yang sulit dijelaskan, tapi mudah dirasakan.

Pada akhirnya, rahasia keindahan itu bukanlah sesuatu yang rumit. Ia justru lahir dari kesabaran, dalam memilih bahan, dalam mengolah kayu, dan dalam menjaga tradisi. Karena bagi para pengrajin, gitar yang baik bukan hanya yang enak didengar, tapi yang mampu menyampaikan rasa.

Baca Juga: Rumah Sri Ksetra Raih Anugerah Kebudayaan, Simbol Kekayaan Budaya Sumatera Selatan

Dan di situlah letak keistimewaannya: suara merdu itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari kayu yang dipilih dengan hati.

Load More