SuaraSumsel.id - Pulau ini diberi nama Pulau Kemaro. Lekat dengan legenda cinta beda etnis, pulau ini juga disebut lokasi penghabisan sekaligus pembantaian Partai Komunis Indonesia (PKI).
Setelah PKI atau komunisme ditetapkan sebagai partai terlarang tahun 1966, upaya pembersihan PKI berlangsung di sejumlah tempat termasuk di Sumatera bagian selatan.
Di Palembang, upaya pembersihan disebut lebih banyak dipusatkan di Pulau Kemaro. Hal ini didukung karena adanya kamp bekas Belanda di lokasi tersebut.
Dikatakan Arkeolog Palembang, Retno Purwanti, ada semacam rangkaian bangunan yang merupakan kamp. Bangunan Kamp ini dibangun masa penjajah Belanda.
Dari sumber cerita sejarah, lokasi Pulau Kemaro memang dikenal sebagai lokasi penghabisan PKI.
“Kan ada itu, penelusuran media Tempo, dari cerita-cerita warga sekitar dan memang dijadikan tempat pembantaian orang-orang yang diduga PKI,” ujarnya.
Awal tahun 2021, Balai Arkeolog Palembang juga melakukan penelitian di Pulau Kemaro.
Dalam keterangannya, Kepala Balai Arkeolog Palembang, Budi Wiyana juga sempat membenarkan adanya penjara yang dipergunakan untuk mengasingkan mereka terduga bagian dari PKI.
“Jika soal lokasi pembantaian, iya ada penjara. Ada bangunan penjaranya,” ujar Budi.
Pakar sejarah Universitas Sriwijaya atau Unsri, Syafruddin mengungkapkan fakta yang sama.
Diungkapkan dia, setelah partai Komunis resmi dilarang di Indonesia, pada tahun 1966. Kala itu, terjadi upaya pembersihan petinggi partai, pengurus, hingga organisasi sayapnya. Termasuk di Sumatera Selatan.
Hampir di setiap daerah memiliki lokasi penghabisan kepada mereka yang disangkakan PKI.
“Misalnya ada itu namanya tebing pembantaian, sampai disebut desa pembantaian. Karena memang dijadikan pusat lokasi penghabisan orang-orang atau mereka yang disangka PKI,” ujarnya ditemui medio September lalu.
Dosen FKIP Sejarah ini mengungkapkan, di Palembang sendiri, itu ada beberapa tempat yang dijadikan lokasi penghabisan tersebut.
Selain terpusatkan di Pulau Kemaro, juga beberapa lokasi yang difungsikan sebagai penjara.
Di Palembang, beberapa tokoh sentral PKI, Mailan dan kawan-kawan pun tidak diketahui nasibnya setelah upaya penghabisan ini.
Upaya pembersihan dilakukan sepanjang 1967-1970 an. Massa di masa proses pembersihan berkecamuk, untuk menghabisi orang-orang yang menjadi bagian PKI.
Beberapa tokoh pemuda dan perempuan yang menjadi bagian organisasi sayap pun masuk daftar panjang, mereka yang tidak diketahui keberadaannya.
Upaya "pembersihkan" ini, jika mereka yang berada di golongan A, yakni pengurus, dan bagian tinggi partai, dibawa ke Pulau Buru.
Sedangkan yang di Pulau Kamaro, ialah penghabisan mereka yang berada di bawah golongan A.
Meski tidak diketahui jumlah pastinya, Ia mengungkapkan cerita sejarah pilu atas tragedi tersebut terwariskan turun-temurun.
Sempat hampir dua tahun, muncul keengganan masyarakat Palembang memakan ikan akibat banyak jasad mengapung di Sungai Musi.
Jasad ini diperkirakan dari upaya pembantaian yang dipusatkan di Pulau Kemaro.
Karena dalam aktivitas penghabisan atau pembersihan, jasad-jasadnya langsung dibuang ke Sungai Musi.
Keengganan masyarakat memancing hingga memakan ikan ini, karena banyak jasad yang mengapung di Sungai Musi.
“Ada sempat dua tahun, warga itu tidak mau makan ikan. Katanya air sungai bau, banyak jasad mengapung ditemukan,” ujar ia.
Keengganan memakan ikan dari Sungai Musi kemudian mulai berubah, saat tidak banyak lagi ditemukan jasad yang mengapung.
“Setelah itu, berubah (sudah mau makan ikan). Saat itu, sudah di atas tahun 1970 an,” ujarnya
Tag
Berita Terkait
-
Tokoh-Tokoh G30SPKI: 7 Pahlawan Revolusi yang Dibuang di Lubang Buaya
-
G30S PKI Duduki Trending Topic, Warganet: Sejarah Kelam Jangan Sampai Terulang
-
G30S PKI: Tekanan Dahsyat di Pondokgede, Jatiasih Sebelum Malam Penculikan 7 Jendral
-
8 Fakta Terkait Monumen Pancasila Sakti, Saksi Bisu Peristiwa G30S PKI
-
Julius, Tim Evakuasi Korban G30S PKI: Leher Jenderal Ahmad Yani Disayat, Tak Sampai Putus
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?