SuaraSumsel.id - Sosok pengacara asal kota Palembang, Sumatera Selatan, Munarman ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror Polri. Penangakapan ini menjadi perdebatan karena unsur mensangkakan Munarman teroris ialah karena ia aktif dalam organisasi islam.
Isu terorisme yang kerap menyudutkan islam ini diungkapkan Aktivis Sosial Sumatera Selatan, Tarech Rasyid perlu pembuktian lebih lanjut.
Sama halnya dengan kasus dugaan Terorisme Munarman yang juga disebut Tarech jauh dari katergori seorang teroris.
Menurutnya tidak ada bukti kuat yang ditemukan Polri.
“Kemudian sosok munarman emang keras dalam gaya berbicara dikarenakan gaya orang Palembang dan pengacara rata-rata seperti itu,”jelasnya dalam diskusi yang digelar Kalimusi, di Rumah Tahfidz Rahmat, Kamis (6/5/2021).
Bagi Tarech, harus ada fakta yang membuktikan bahwa seseorang bisa dikatakan teroris. Pada kasus Munarman yang belum ada bukti kuat yang bisa dikategorikan sebagai terorisme.
"Dan Undang-undang harus ditegakkan secara adil," tegas ia.
Menurut ia, aksi terorisme tidak hanya bisa dilakukan oleh satu individu melainkan juga bisa berkelompok hingga negara.
“Pertama secara individu, kedua secara kolektif serta yang ketiga adalah state terorism,” terangnya.
Baca Juga: Cegah Longsor di Pinggir Sungai, BBPJN Sumsel Bakal Tanam Vetiver
Tak dapat dipungkiri, pemahaman publik mengenai terorisme sangatlah minim sehingga masyarakat tidak mengetahui secara pasti seperti apa yang dikategorikan sebagai teroris itu.
Awal pemahaman terorisme di dunia terjadi sejak September 2011 saat penyerangan menara World Trade Center (WTC) atau yang lebih dikenal dengan serangan 9 September.
Sejauh ini, menurut Koordinator acara diskusi publik pada pengajian Kalimusi Ihdinas-Shirootol mustaqiim, Imron Supriyadi penyebutan terorisme lengkat dengan agama islam.
“Hubungan Islam dan terorisme di Indonesia yang identik dengan pesantren, celana cantung dan jenggot yang tidak bisa diterima umat Islam,” imbuhnya.
Keterkaitan ini terus berkembang di masyarakat juga disebabkan karena Pemerintah tidak memberikan edukasi kepada publik.
“Saat ini, Pemerintah juga masih belum bisa mendeskripsikan apa itu terorisme secara jelas,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
- PT Blueray Cargo Milik Siapa? Perusahaan Logistik yang Seret Raffi Ahmad dalam Kasus Suap Importasi
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Masak Tepi Sungai 2026 Digelar di Kampung Perigi, Mengungkap Budaya Kopi Palembang
-
Masih Ada Promo! Nikmati Martabak HAR Lebih Hemat dengan QRIS BSB Mobile
-
Bank Sumsel Babel Dukung Palembang Great Sale 2026, Ada Promo QRIS BSB Mobile
-
Bank Sumsel Babel Syariah Hadirkan Solusi Keuangan untuk Investasi, Haji hingga Kepemilikan Emas
-
Apa Itu Hilirisasi Batu Bara yang Jadi Prioritas Baru PT Bukit Asam?