Scroll untuk membaca artikel
Tasmalinda
Minggu, 22 November 2020 | 18:20 WIB
Teater Potlot saat latihan sebelum pertunjukan [Dok. Teater Potlot]

Tentang bagaimana perjalanan tubuh bumi dan manusia dari peradaban megalitikum sampai mekanika kuantum yang hadir dalam gerakan modular sebuah peristiwa teater.

“Bagaimana prediksi-prediksi manusia post human dan anatomi trans humanism. Dalam konteks perubahan iklim global yang meningkatkan temperatur bumi, serta proses tersekapnya pantulan radiasi matahari di lapisan atmosfer akibat polutan udara,” ungkapnya.

Antropogenik mungkin menjadi diskursus ekologis para antropos saat ini yang ‘menghadirkan’ manusia tanpa ras, datang dari masa depan.

Teater Potlot saat latihan sebelum pertunjukan [Dok. Teater Potlot]

Antropogenik merupakan produksi ke-40 Teater Potlot.

Baca Juga: FPI Sumsel: Pencopotan Baleho Habib Rizieq Pakai Tim Gabungan Itu Lucu

Sejak reborn pada 2015 lalu, Teater Potlot selalu mengusung isu ekologi dalam setiap pertunjukannya. Mulai dari Rawa Gambut, Puyang, Talang Tuwo Glosarium Project, Awang 3445 Celcius, dan Inside Plastics, yang dipentaskan di sejumlah kota di Sumatera, mulai Palembang, Bandarlampung, Jambi dan Padang Panjang.

“Kami pilih tema ekologi, sebab berbagai persoalan seperti sosial, kesehatan, budaya, politik, dari lokal hingga global, bermula dan berakhir pada persoalan ekologi,” ucapnya.

Ketamakan manusia terhadap sumber daya alam sudah membawa pada akhir kehidupan manusia dan Bumi.

“Semoga ini upaya kami ini memberi dampak agar kita segera mencegah tindakan yang mempercepat kerusakan Bumi yang indah ini,” kata T. Wijaya, Pegiat Teater Potlot yang pada Maret lalu meluncurkan novel keempatnya berjudul Cekap, yang mengisahkan tentang ketamakan manusia terhadap sumber daya alam, khususnya lahan.

Baca Juga: Fans Soneta: Ajang Dangdut Bintang Suara Bisa Mengasah Talenta

Load More