Tasmalinda
Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:47 WIB
Sejumlah kendaraan melintas di simpang susun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Palembang-Lampung yang tertutup kabut asap di Desa Ibul Besar III, Pemulutan, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Selasa (13/10/2026). Sumsel jadi proyek percontohan teknologi dry ice, benarkah bisa mengatasi kabut asap? [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/tom]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menjadikan Kota Palembang sebagai lokasi percontohan pertama di Indonesia untuk uji coba teknologi dry ice dalam menangani kabut asap akibat karhutla.
  • Pesawat untuk mendukung operasi penebaran dry ice yang dikoordinasikan bersama BNPB dan BMKG tersebut dijadwalkan berangkat dari Bandar Lampung pada Rabu, 14 Oktober 2026.
  • Teknologi modifikasi cuaca menggunakan dry ice bertujuan membantu pembentukan kristal es pada awan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan guna membasahi lahan dan mengurangi api.

Palembang menjadi prioritas operasi

Herman Deru mengatakan pemerintah daerah meminta agar tahap awal penerapan teknologi tersebut diprioritaskan di Kota Palembang, yang terdampak persoalan kabut asap.

Penentuan lokasi dan koordinat operasi dilakukan melalui koordinasi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel.

Koordinasi ini diperlukan agar pelaksanaan operasi mempertimbangkan kondisi cuaca, kebutuhan penanganan bencana, dan sasaran yang ditetapkan oleh tim teknis.

Pemerintah berharap penerapan teknologi tersebut dapat membantu memperbaiki kondisi lingkungan yang terdampak kabut asap. Namun, dampak nyata terhadap kualitas udara baru dapat dinilai setelah operasi dilaksanakan dan hasilnya dibandingkan dengan data meteorologi serta pengukuran kualitas udara.

Penerapan teknologi dry ice menjadi perhatian karena Sumatera Selatan tengah menghadapi persoalan kabut asap yang berkaitan dengan karhutla. Meski demikian, keberhasilan operasi tidak cukup dinilai dari terlaksananya penerbangan atau penebaran bahan.

Ada sejumlah indikator yang perlu dipantau, antara lain perubahan curah hujan di wilayah sasaran, perkembangan titik panas dan kebakaran aktif, serta perubahan konsentrasi partikulat seperti PM2.5.

Pengukuran sebelum dan sesudah operasi juga perlu mempertimbangkan faktor lain yang dapat memengaruhi kualitas udara, termasuk arah angin, kecepatan angin, sumber emisi, dan kondisi atmosfer.

Data tersebut penting untuk membedakan perubahan yang berkaitan dengan operasi modifikasi cuaca dari perubahan yang terjadi akibat faktor meteorologis lainnya.

Baca Juga: Kabut Asap Belum Usai, 6 Penerbangan Bandara SMB II Palembang Kembali Terganggu

Jika hasil uji coba menunjukkan manfaat yang terukur, pengalaman pelaksanaan di Sumatera Selatan dapat menjadi bahan evaluasi untuk penerapan teknologi serupa di wilayah lain yang menghadapi persoalan karhutla.

Untuk saat ini, efektivitas operasi dry ice yang direncanakan di Sumatera Selatan masih perlu menunggu hasil pelaksanaan dan evaluasi teknis dari instansi yang berwenang.

Load More